Kamis, 26 November 2020
Informasi KKP
: KKP Kelas I Tanjung Priok...Berkomitment sebagai Wilayah Bebas dari Korupsi (WB) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM)....mariii kita dukung..!!

PELATIHAN BASIC LIFE SUPPORT (BLS) UNTUK NON MEDIS (SECURITY, DRIVER, CLEANING SERVICE) DAN STAKEHOLDER DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK

PELATIHAN BASIC LIFE SUPPORT (BLS) 
UNTUK NON MEDIS (SECURITY, DRIVER, CLEANING SERVICE) DAN STAKEHOLDER 
DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK
Oleh dr Dwie Meiningwati

Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan pertolongan yang dilakukan kepada korban yang mengalami henti nafas dan henti jantung. Keadaan ini bisa disebabkan karena korban mengalami serangan jantung (heart attack), tenggelam, tersengat arus listrik, keracunan, kecelakaan dan lain-lain. Pada kondisi nafas dan denyut jantung berhenti, sirkulasi darah dan transportasi oksigen juga berhenti sehingga dalam waktu singkat organ-organ tubuh terutama organ vital akan mengalami kekurangan oksigen yang berakibat fatal bagi korban dan mengalami kerusakan.
Organ yang paling cepat mengalami kerusakan adalah otak, karena otak hanya akan mampu bertahan jika ada asupan glukosa dan oksigen. Jika dalam waktu lebih dari 10 menit otak tidak mendapat asupan oksigen dan glukosa, maka otak akan mengalami kematian secara permanen. Kematian otak berarti pula kematian si korban. Oleh karena itu golden period (waktu emas) pada korban yang mengalami henti nafas dan henti jantung adalah di bawah 10 menit.
Tindakan BLS atau BHD dilakukan dengan langkah Circulation, Airway, Breathing (CAB) dan dilakukan oleh orang yang berada di sekitar penderita segera setelah kejadian dapat meningkatkan kelangsungan hidup penderita. Tindakan BHD yang terlambat dan tidak sesuai dengan prosedur, akan mengakibatkan gagalnya upaya penyelamatan terhadap penderita.
Pelatihan BHD dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada orang umum, termasuk petugas nonmedis dan stakeholder yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini dilakukan karena suatu keadaan gawat darurat bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan menimpa siapa saja. Sehingga keterampilan menghadapi suatu kondisi gawat darurat sangat diperlukan bagi semua petugas yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok.
Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok sebagai unit pelaksana teknis Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, mempunyai tugas dan fungsi yang salah satunya adalah melakukan upaya pelayanan kesehatan terbatas di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok. Untuk menunjang upaya tersebut, KKP Kelas I Tanjung Priok mengadakan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar yang diikuti oleh tenaga non kesehatan dan stakeholder di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok.

Tujuan dari pelatihan ini adalah :
1. Peserta mampu memahami rangkaian Bantuan hidup Dasar
2. Peserta mampu memberikan pertolongan pada suatu kondisi gawat darurat

Peserta pelatihan terdapat 30 orang yang terdiri dari :
1. Petugas non medis di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok (Security, driver, dan cleaning service)
2. Stakeholder di Pelabuhan Tanjung Priok
a. Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Priok
b. Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok
c. Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok
d. General Manager PT Pelindo II Tanjung Priok
e. Multi Terminal Indonesia
Pelatihan BLS bulan Maret 2020 :
Peserta pelatihan terdapat 30 orang yang terdiri dari :
1. Petugas non medis di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok (Security, driver, dan cleaning service) yang belum mengikuti pelatihan BLS di bulan februari.
2. Stakeholder di Pelabuhan Tanjung Priok
a. Direktur PT PELNI (Persero) Cabang Tanjung Priok
b. Komandan Batalyon Bekang-4/ Air TNI AD
c. Kepala Damkar Pelindo II Tanjung Priok
d. Ketua TKBM Pelabuhan Tanjung Priok
1. Tempat : Ruang Rapat Lt. 4 Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok
2. Waktu : Pelatihan BLS dilaksanakan 2 kali dalam setahun, pada bulan Februari dan Maret (6 Februari dan 5 Maret 2020).

Proses pelaksanaan kegiatan :
1. Acara dipandu oleh Kepala Seksi Kesehatan Matra dan Lintas Wilayah Ibu Fifi Nur Afifah, SKM, M. Epid
2. Pembukaan oleh Kepala Bagian Tata Usaha Bapak Ir. Ade Sutrisno, M. Kes
3. Pemaparan materi di sampaikan oleh dr. Gita dan dr. Lies Setyorini
a. Judul :
Resusitasi jantung paru
b. Dalam melakukan resusitasi jantung paru ada 3 (tiga) pedoman yang harus di ingat yaitu C-A-B :
• Circulation yaitu pengecekan arteri carotis communis, tidak lebih dari 10 detik. Kompresi dada membuat aliran darah dengan meningkatkan tekanan intra thoracal dan langsung mengkompresi jantung. Ini menghasilkan pengiriman oksigen dan aliran darah ke miokardium dan otak.Penekanan dada yang efektif sangat penting untuk menyediakan aliran darah selama resusitasi jantung paru. Kompresi dada yang efektif frekuensi minimal 100x/menit dan maksimal 120 x/menit, dengan kedalaman kompresi minimal 5 cm dan maksimal 6 cm, meminimalkan interupsi, recoil sempurna yaitu dinding dada kembali ke posisi normal secara penuh sebelum kompresi dada berikutnya.
• Airway yaitu untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan nafas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan terlebih dahulu. Setelah jalan nafas dipastikan sudah bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglottis akan menutup faring dan laring, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan nafas. Pembebasan jalan nafas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (head tild-chin lift) dan manuver pendorongan mandibula (jaw thrust).
• Breathing yaitu pernafasan, di sini harus memeriksa pernafasan penderita dengan cara lihat (look) perkembangan dada mengembang atau tidak,Dengarkan (listen) ada suara nafas atau tidak, rasakan (feel) hembusan nafas terasa atau tidak. Prosedur ini dilakukan tidak boleh lebih dari 10 detik. Jika korban tidak bernafas, bantuan nafas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung, atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan nafas sebanyak 2 kali hembusan.

4. Sesi Praktek di pandu oleh dr. Lies Setyorini, dr. Dwie Meiningwati dan Indra Felani
a. Perwakilan dari peserta melakukan praktik RJP pada orang coba (manekin)
• Pastikan lingkungan sekitar aman baik bagi penolong maupun korban
• Cek respon penderita, cek arteri carotis, Bila tidak ada respon panggil pertolongan hubungi petugas kesehatan, Ambil AED dan hubungi 119
• Selama menunggu pertolongan datang lakukan resusitasi jantung paru dengan perbandingan 30:2 (pijat jantung selama 30 kali dan 2 kali nafas buatan dengan frekuensi 100 x/menit, kedalaman 5 cm, dan recoil sempurna). Setiap 5 siklus kita cek lagi arteri carotis, apabila tidak teraba ulang lagi 5 siklus.
• RJP dihentikan apabila pasien sudah bernafas spontan, penderita tidak menunjukkan adanya perbaikan selama 30 menit, atau penolong kelelahan dan petugas yang lebih bertanggung jawab/medis datang.
b. Praktik RJP dilakukan pada kasus penderita tersedak (choking)
• Penanganan tersedak (choking) pada dewasa : Bila penderita tidak bisa bicara, batuk ataupun bernafas maka lakukan tindakan dorongan perut (abdominal trhrust) yang dikenal dengan istilah Heimlich Maneuver.
• Penanganan tersedak (choking) pada bayi dibawah 1 tahun dalam kondisi sadar : Posisikan bayi pada posisi telungkup pada salah satulengan bawah penolong.sangga bagian kepaladan leher dengan satu tangan. Posisikan kepala bayi lebih rendah dari tubuh. Lakukan 5 kali hentakan punggung (back blow). Balikkan kembali posisi bayi dengan wajah menghadap ke atas (terlentang) dengan kepala bayi lebih rendah dari tubuh. Lakukan dorongan dada (chest thrust) dengan memberika tekanan pada bagian tulang dada bayi menggunakan dua atau tiga jari dengan kedalaman 1,5 – 3 cm sebanyak 5 kali. Ulangi siklus back blow dan chest thrust sampai benda asing berhasil keluar atau kondisi bayi menjadi tidak sadar

1. Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah tindakan darurat untuk membebaskan jalan nafas, membantu pernapasan, dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa menggunakan alat bantu
2. Keterampilan BHD diperlukan oleh masyarakat umum termasuk petugas non medis dan stakeholder di Pelabuhan Tanjung Priok

DOKUMENTASI PELATIHAN BLS FEBRUARI DAN MARET 2020

a Bagian Tata Usaha Bapak Ir. Ade Sutrisno membuka acara pelatihan BLS

IMG 20200805 WA0044

Tim pengajar mempraktekkan cara Look, Listen, Feel pada orang tidak sadar

IMG 20200805 WA0055